Header Ads

Menariknya Situs Cagar Budaya Candi Brahu di Trowulan

Setelah puas melihat-lihat patung Buddha raksasa(klik disini), kamipun melanjutkan kunjungan ke situs sejarah lainnya yaitu Candi Brahu yang jaraknya 15 menit saja berkendara dengan motor dari Mahavihara Mojopahit yang terdapat Patung Buddha raksasa tersebut, maklum beberap situs sejarah disini masih satu lokasi yang saling berdekatan yaitu di Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Mojokerto JATIM ini.

Sebenarnya sebelum kami ke Mahavihara Mojopahit kami telah melewati candi ini, sehingga selesai dari vihara tersebut baru kami menuju candi ini. Ketika kami sampai di candi ini, sudah banyak pengunjung yang datang, yang rata-rata adalah para pelajar yang notabene kebanyakan adalah warga lokal sekitar Mojokerto ini. Maklum sekarang adalah masa libur sekolah dan lebaran jadi yang berkunjung lumayan banyak.

Tiap bulannya kurang lebih 3000an pengunjung datang ke Candi Brahu ini, karena selain menarik juga tiket masuknya cukup murah hanya 3000 rupiah dengan biaya parkir dengan nominal yang sama, cukup sesuai dengan kantong pengunjung disini.


Candi Brahu tampak depan


Candi ini tergolong Candi Buddha dengan masa pendirian belum diketahui secara jelas, disebutkan dalam prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan tidak jauh dari candi ini, prasasti ini dikeluarkan oleh Empu Sindok pada tahun 861 Saka atau tanggal 9 September 939 Masehi. Prasasti ini bertolak belakang dengan hasil pertanggalan C14 (Carbon dating) bahwa candi ini didirikan tahun 1410 dan 1646 masehi atau pada masa kerajaan Mojopahit.

Brahu berasal dari kata Waharu atau Warahu yang berarti bangunan suci. Menurut cerita rakyat, candi ini berfungsi sebagai makam Raja Brawijaya I hingga Brawijaya IV, tetapi tidak ditemukan bukti Arkeologis dan sejarah untuk mendukung cerita rakyat tersebut.

Candi yang menghadap ke barat ini terbuat dari bata merah, dengan bentuk candi yang simetris antara sisi kiri dan kanannya yang berimbang dengan lekukan-lekukan yang indah, bagian bawah dan
atas candi lebar dengan bagian tengah yang mengecil layaknya pinggang seorang gadis hehe…! sehingga mengingatkan saya waktu pelajaran sejarah di bangku sekolah dulu, bahwa candi di Jawa Timur itu berbeda dengan bentuk candi di Jawa Tengah.

Kalau candi di Jawa Timur biasanya terbuat dari bata, berbentuk ramping dan menghadap ke barat sedang candi di Jawa Tengah justru sebaliknya yaitu terbuat dari batu andesit, bentuknya lebih tambun dan rata-rata menghadap ke timur, dan ada beberapa perbedaan lagi dari bentuk relief dan hiasan lainnya.

Candi Brahu tampak belakang


Candi Brahu ini berbentuk bujur sangkar dengan lebar 20,7 meter panjang 25,7 meter dan tinggi tersisa sekarang 22,5 meter, walupun begitu candi ini masih berpredikat yang tertinggi di Jawa Timur, candi ini terlihat tiada relief dan juga ukiran layaknya candi di Jawa Tengah, Candi Brahu ini hanya terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran sebagai bentuk stupa. Jadi candi ini terkesan seperti hanya tumpukan bata merah saja. Walaupun begitu tidak mengurangi keindahan dari candi tersebut.

Di beberapa bagian candi terdapat semacam bekas penambalan atau perbaikan, maklum candi ini sudah berabad-abad umurnya sehingga pernah dilakukan pemugaran yang salah satunya pernah diresmikan Purna Pugar tanggal 9 September 1995 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof DR-Ing. Wardiman Djojonegoro saat itu. Sehingga kita bisa melihat hasilnya seperti sekarang ini.

Demi menjaga keawetan candi, para pengunjung hanya diperbolehkan naik sebatas altar depan dan tidak boleh masuk kedalam candi yang konon ruangan dalam candi ini bisa muat sampai 30 orang. Walaupun tidak diijinkan masuk itu sudah cukup untuk menghilangkan rasa penasaran kita dengan candi ini.

Pengunjung dilarang masuk candi, model diperagakan ibu dan adik saya


Area candi yang luas ini selain menyuguhkan keindahan bangunannya, kita juga disuguhi suasana segar dan menyejukkan karena banyak pohon rindang yang mengelilinginya, selain itu situs ini berada di tengah sawah dengan tanaman tebunya yang terkadang angin berhembus dengan sedikit kencang,  sehingga menjadikan makin nyaman bila kita bersantai di area candi ini.

Walau candi ini terletak di tengah sawah jangan khawatir bila anda lapar, karena di depan area candi banyak orang berjualan makanan dan juga dijual pernak-pernik cendramata khas kerajinan penduduk sekitar, seperti tepak sirih, asbak, patung, gantungan kunci dan lainnya yang terbuat dari bahan tembaga dan kuningan.

Jadi dengan adanya candi ini juga menjadikan terangkatnya perekonomian warga sekitar juga pendapatan daerah PEMKAB Mojokerto ini. Situs candi ini juga sebagai wahana pendidikian generasi yang akan datang tentang sejarah negeri ini betapa negeri ini pernah berjaya dimasa lampau.

Pengunjung di halaman candi


Walaupun begitu situs wisata ini bukan berarti tanpa kekurangan. Saat saya berkunjung ada sedikit yang menurt saya seperti ada yang kurang, yaitu tempat parkirnya yang ada di dalam area candi, papan nama candi terlihat kecil dan tampak kurang jelas karena terhalang oleh lapak pedagang.

Semoga situs ini semakin bagus dan cantik kedepannnya dan apapun kekurangan dari situs ini, kita patut berbangga dengan adanya peninggalan sejarah yang ada, mari kita jaga situs ini sebaik-baiknya sebagai warisan budaya negeri yang beraneka ragam ini.

Bagaimana untuk menuju candi ini? Cukup mudah tentunya, dari jalur utama Surabaya Madiun, setelah sampai di Perempatan Trowulan tinggal masuk ke utara dengan jalan yang tak terlalu lebar setelah itu ke barat masuk areal persawahan, jangan khawatir jalannya beraspal dan cukup mulus. Jadi jarak keseluruhan dari Perempatan Trowulan ke candi sekitar 1,5 km saja.

Jadi, kapan kita kesini lagi?

Situs Candi dikelilingi tanaman tebu

Salah satu petugas sedang membersihkan bangunan candi

Kebun Sengon depan areal candi

Parkiran motor dalam area candi

Tiket masuk dan parkir

Salah satu warung depan candi

Cendramata yang dijual

Penjual Cilok, disini cilok disebut" Pentol"

Papan nama yang terhalang pedagang

Dua anak saya sedang merumput di halaman candi

Kakak Yumna

Bunga model stupa

kapan kesini kakak?




Howgh!


Trowulan, 12 juli 2016

14 komentar:

  1. Waah tempatnya enak banget ya adem. Btw Mas Faw udah keren ih tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks for visiting sist, iya selain buat wahana pendidikan tempatnya juga menyegarkan...

      Hapus
  2. Kapan kesitu lagi, kayaknya bagus buat hunting foto

    BalasHapus
  3. Waktu kuliah di Jogja dulu, punya wacana mau sambangi semua candiiii. Hmmm

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. thanks for visiting...

      pak faaris juga menginspirasi haaa

      Hapus
  5. Saya suka lihat candi-candi begini... Dulu waktu di Pekanbaru, ada Candi Muara Takus di daerah Pasir Pangarayan. Jauh sih dan masuk ke dalam, tapi saya tidak pernah bosan mengunjunginya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh saya jadi ingat candi yang satu ini, saat SMP sering di sebut sebut he2...

      btw thanks sudah mampir.

      Hapus
  6. Tempat-tempat seperti ini menarik banget dikunjungi. Apalagi kalo sejarahnya dipaparkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bang, apalagi di Trowulan ini bejibun peninggalan sejarah seperti ini.

      Hapus
  7. Indonesia itu banyak sekali candi2nya hanya saja belum semua diketahui publik kecuali beberapa yg sudah famous.. kapan ya aku ke situ hehe

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.