Header Ads

Candi Gentong, Sebuah Candi Yang Misterius Peninggalan Kerajaan Mojopahit

Masih dalam rangka jalan-jalan mengunjungi beberapa peninggalan sejarah purbakala sisa-sisa kerajaan Mojopahit, setelah puas meng-eksplore Candi Brahu, pagi ini kami sekeluarga melanjutkan kunjungan ke situs purbakala lainnya. Sekarang kami menuju Candi Gentong, sebuah candi yang jaraknya sekitar 500 meter saja dari Candi Brahu(klik disini). Saya kurang tahu kenapa nama candi ini bernama gentong? apakah memang bentuknya seperti gentong yang berfungsi untuk menyimpan air? atau ada kisah lain yang melatarbelakanginya? Saya masih belum tahu sampai detik ini.


Tembok pengenal candi




Saat pertama kali kami sampai di situs purbakala yang satu ini sayapun heran, lho mana candinya mana gentongnya? Kami hanya melihat sebuah taman yang luasnya kira-kira 107x59 meter persegi yang terletak ditengah sawah dengan mayoritas tanaman tebunya. Di area taman ini terdapat dua buah bangunan berbentuk pendopo dengan atap dari spandek(seng) berwarna merah marun. Ketika kami masuk tidak ada yang memungut biaya retribusi seperti karcis atau parkir lainnya, alias gratis. Penjaga yang bertugaspun mempersilakan kami untuk melihat-lihat area Candi Gentong ini.

Sayapun penasaran dengan bangunan pendopo didepan saya, karena sisi dalam tampak gelap bila dilihat dari kejauhan, sehingga sayapun langsung mendekati dua pendopo tersebut.

Ternyata… oh ternyata, setelah sampai di bangunan berbentuk pendopo tersebut sayapun heran, ini kah yang disebut Candi Gentong? Rupanya tidak ada bangunan candi yang utuh di bawah pendopo ini, rupanya yang ada hanya puing-puing bekas candi atau sekedar pondasinya saja. Dan pendopo ini fungsinya hanya untuk menaungi candi ini dari panas dan hujan biar candi tidak cepat rusak.

Pendopo Selatan dimana terdapat Candi Gentong Satu


Walaupun sedikit kecewa tidak menemukan candi tetapi saya tetap antusias untuk melihat-lihat peninggalan bersejarah ini., karena saya merasa beruntung masih bisa melihat peninggalan situs bersejarah ini walaupun sekedar pondasinya saja. Selain itu sayapun bangga bahwa disini, di Dusun Jambu Mete, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM ini pernah berdiri candi besar layaknya candi-candi lainnya.

Pendopo Utara dimana terdapat Candi Gentong Dua


Walaupun yang tersisa hanya pondasi dan puing-puingnya saja, saya jamin pengunjung tak kan kecewa, karena selain melihat lihat sisa candi, kita juga bisa bersantai di taman yang ada, karena disini tersedia tempat duduk mengelilingi taman yang dinaungi banyak pohon. Karena situs ini ditengah sawah jadi hawanya pun terasa segar dan suasananya sangat asri. Di tiap titik taman juga terdapat tempat sampah sehingga taman di situs ini pun terlihat cukup bersih.

Kak Yumna di taman


Di sekeliling taman juga tumbuh pohon Mojo, sebuah pohon yang buahnya mirip semangka dengan kulit keras dan dagingnya yang berwarna putih namun tak bisa dimakan. Pohon Mojo ini sepertinya merupakan pohon khas dearah Trowulan ini, konon nama Kerajaan Mojopahit diambil dari nama buah ini.

Pohon Mojo


Berdasar keterangan yang tercantum pada sebuah papan keterangan marmer di area candi ini, Candi Gentong ini terdiri dari dua bangunan candi yang terbuat dari batu bata. Kedua candi ini terlihat dibangun secara berjajar, yaitu satu candi di sisi utara sedang satunya lagi di sisi selatan, dengan masing-masing berjarak kurang lebih 25 meter. Dan kedua candi ini berorientasi menghadap ke barat.

Candi yang sebelah selatan disebut Candi Gentong Satu dengan ukuran 23,5 x 23,5 meter dan tinggi 2,45 meter, sedang yang disisi utara disebut Candi Gentong Dua yang berukuran lebih kecil lagi. Untuk batas-batas Candi Gentong belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan sisa cagar budaya yang ditemukan, diperkirakan candi ini termasuk dalam suatu komplek percandian yang luas.

Informasi awal tentang candi ini ditulis oleh Verbeek dalam TBG XXXIII tahun 1889. Dalam bukunya, Verbeek menyebutkan bahwa pada tahun tersebut bangunan Candi Gentong masih terlihat bentuknya, namun Verbeek tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai bentuk bangunan candi secara rinci.

Beda Verbeek beda Knebel, Knebel dalam ROC(Rapporten Oudheidkundige Commisie) tahun 1907 menyebutkan bahwa bangunan Candi Gentong hanya berupa gundukan tanah saja. Dan Krom dalam bukunya Inleiding Tot de Hindoe Javaneeschhe Kunts pada tahun 1923 menyebutkan bahwa candi Gentong ini memang letaknya tidak jauh dari Candi Brahu.

Usaha pelestarian terhadap candi gentong telah dilakukan oleh Balai Pelestarian Penanggalan Purbakala provinsi JATIM selama enam tahun dari tahun anggaran 1995 s/d 2000 dan masih berjalan hingga tahun anggaran 2001, dan hasilnya tampak seperti sekarang ini yaitu dengan terlihatnya struktur kedua candi tersebut.

Candi Gentong Satu dan Candi Gentong Dua saat ditemukan sudah dalam keadaan runtuh dan hanya bagian kaki candi saja yang menunjukkan struktur aslinya. Candi Gentong Satu relatif masih terlihat denah candinya secara utuh, yang menunjukkan bentuk bujur sangkar dengan penampilan pada sisi barat bila dilihat pada dindingnya, Candi Gentong Satu merupakan suatu bangunan yang memiliki sebuah ruangan pusat. Lain halnya dengan Candi Gentong Dua yang menunjukkan denah sebuah bangunan dipusat yang dikelilingi oleh bangunan kecil.

Inilah Yang disebut Candi Gentong Satu, tinggal kaki candi saja


Candi gentong Dua, tinggal kaki candi juga


Candi Gentong Satu sepertinya ada bekas ruangan ruangan dan lorong lorong yang belum jelas fungsinya dan inilah yang menjadi misteri sampai saat ini. Apakah candi ini sebagai tempat peribadatan, pemandian atau lainnya

Lorong-lorong Candi Gentong Satu


Perbandingan ukuran bata pembuat candi dengan tangan orang dewasa


Dari beberapa penelitian yang dilakukan selama ini menunjukkan bahwa Candi Gentong mempunyai latar belakang keagamaan Budha. Hal ini dibuktikan dari sejumlah temuan berupa stupika(stupa kecil) bertulis dan temuan-temuan lain berciri khas agama Budha pada kedua candi ini.

Begitulah asal usul kisah penemuan dan pengembangan candi ini. Sebelum kami bertolak dari candi ini untuk melanjutkan kunjungan ke situs purbakala lainnya, sayapun bertanya ke penjaga candi ini untuk menghilangkan rasa kepenasaran saya sejauh ini, kenapa kedua candi ini dinamakan Candi Gentong. Dan merekapun memberitahukan bahwa nama gentong berasal dari saat pertama kali candi ini ditemukan yaitu candi ini tertutup tanah berbentuk gundukan seperti gentong air. Oh..! Jadi simpel saja rupanya pemberian nama candi ini.

Sedang kenapa masuk situs ini digratiskan sedang situs cagar budaya lainnya membayar? Penjaga tersebut memberikan dua alasan. Yang pertama adalah karena situs ini hanya sebatas puing-puing saja sedang yang lainnya masih berbentuk dan masih bisa dilihat keindahannya. Dan alasan kedua adalah karena Candi Gentong ini masih dibawah pengawasan Dinas Purbakala( Kemendiknas) dan bukan dibawah pengawasan Dinas Pariwisata, karena bila dibawah Dinas Pariwisata daerah ini, bila kita berkunjung akan dikenakan biaya masuk, seperti  saat  kunjungan saya ke Candi Brahu dan situs-situs lainnya.

Demikianlah cerita kujungan kami ke Candi Gentong ini, bagi kawan-kawan yang ingin kesini, caranya pun cukup mudah. Rutenya sama ketika kita ingin menuju candi Brahu karena masih satu jalan dan kedua candi ini saling berdekatan. Bila kawan-kawan dari arah Jombang atau Surabaya, bila naik kendaraan cukup temukan perempatan Trowulan lalu masuk ke utara sejauh satu kilometer dan kita akan menemukan pertigaan ditengah sawah, baru belok ke barat sejauh 200 meter. Candi Gentong berada disisi utara jalan.

Semoga cerita jalan-jalan kami ini bermanfaat.

Jalan menuju candi


Tanaman bentuk apakah ini?


Salah satu sudut taman


Sarang hewan undur undur di permukaan tanah sekitar candi



Sampai jumpa kakak!


Catatan: semua gambar adalah koleksi pribadi



Trowulan, Selasa 12 Juli 2016

Howgh!

13 komentar:

  1. Rasanya seperti ikut bersama,begitu jelasnya bahasa penulis. Terima kasih telah berbagi pengalaman. Sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mampir sister, ah biasa saja, ini tulisan sekedar coretan pengisi waktu saja.

      sukses to mrs Puji and family too.

      Hapus
  2. Rasanya seperti ikut bersama,begitu jelasnya bahasa penulis. Terima kasih telah berbagi pengalaman. Sukses selalu

    BalasHapus
  3. Banyaknya juga ya candi disana. Waah layak dilestarikan sebagai situs budaya dan jadi tempat wisata neh.

    Salam
    www.catatantraveler.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, karena candi kuno harus tetap dijaga.

      Btw trims dah mampir.

      Hapus
  4. Tempatnya asri ya Om... Baru tahu kl Candi Gentong itu hanya gundukan tanah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, asri karena lokasinya yg ditengah sawah.

      Hapus
  5. Balasan
    1. Iya, katanya saat pertama ditemukan malah tertimbun tanah...

      Hapus
  6. wah.... namanya unik ya, ada apa aja disana mas?

    BalasHapus
  7. Ada Vihara, kolam kuno, pemakaman kuno, pendopo(gedung pertemuan), museum....dan paling banyak candi...tersebar didaerah ini dlm radius 2km.

    Btw trims sudah mampir.

    BalasHapus
  8. Ada Vihara, kolam kuno, pemakaman kuno, pendopo(gedung pertemuan), museum....dan paling banyak candi...tersebar didaerah ini dlm radius 2km.

    Btw trims sudah mampir.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.