Header Ads

Ramahnya Kawan IPD Tulungagung saat Reuni lebaran 2016

Bimbang

Hampir saja saya tidak berangkat untuk menghadiri acara kumpul-kumpul dengan kawan-kawan mantan IPD( PT.Inti Pelangi Drumasindo) di Kota Tulungagung Jawa Timur, Sabtu 16 Juli 2016. Bagaimana tidak, saya yang berencana berangkat naik kereta api hampir saja tidak bisa berangkat karena di stasiun desa saya Curahmalang, tidak menjual tiket dadakan alias harus pesan dulu jauh-jauh hari,

“Aahhhh…” gumam saya kecewa saat itu

Kenapa saya santai saja kemarin kalau benar-benar ingin datang? Sesal kemudian tiada guna, alternatif lainnya ya naik bus, tapi saya kurang suka dengan moda transportasi yang satu ini, favorit saya tetap dengan kereta api.

Curahmalang, stasiun kebanggaan kami 


Dalam kebimbangan antara datang atau tidak, antara bus atau kereta api, masih menggelayuti pikiran saya, ini adalah momen yang langka,  jarang-jarang saya pulang saat lebaran apalagi kumpul-kumpul dengan kawan-kawan lama, apalagi di sebuah kota yang sering saya dengar tapi tak pernah saya kunjungi bahkan satu kalipun ini. Motivasi saya hanya dua,  berkumpul dengan kawan lama plus berkunjung ke kota yang saya kepoin ini…!

Saat menimbang-nimbang antara berangkat atau tidak, apalagi kawan-kawan disana sudah sangat berharap kehadiran saya (ce’ileee..!) pegawai Stasiun Curahmalang pun memberikan solusi

” Mas bisa dapat tiket dadakan tapi belinya di Stasiun Sumobito”

mendengar itu sayapun langsung senyum sumringah “ bisa ya? “ tanya saya memastikan, dan pegawai tersebut mengiyakan. Sayapun menoleh ke adik perempuan saya

” Rul, gimana bisa antar cacak ke Sumobito?” tanya saya

“ Bisa cak” jawab adik saya singkat.

Saya lihat jam di stasiun ini menunjukkan pukul enam kurang lima berarti kereta yang akan saya tumpangi lima menit lagi sampai disini dan lima belas menit kemudian akan sampai di Sumobito, jadi saya harus sampai di Sumobito secepatnya( Stasiun Sumobito terpaut 3 km setelah Stasiun Curahmalang) saya harus cepat, maka dengan diantar Nurul, saya langsung men-gas motor kami sekencang-kencangnya motor Legenda tua kami, demi sampai di stasiun berikutnya, Sumobito.

“Ini demi kalian semua kawan, saya harus berangkat, saya harus bertemu kalian” gumam saya dalam hati  saat mengendarai motor tua ini # eakkk..!

Alhamdulillah setelah motor kami menerjang dinginnya pagi diantara tanaman tebu, sampailah kami di stasiun yang dituju, saya lihat belum ada kereta nongol dan saya pun lekas-lekas menuju stasiun untuk membeli tiket dan Alhamdulillah satu tiket KA Dhoho dengan tujuan Tulungagung sudah ditangan dan tidak berapa lama menunggu, si hitam KA Dhoho pun muncul(aslinya putih hehe).

Gerbong satu Rapi Dhoho


Akhirnya saya pun berangkat dengan kereta yang legendaris ini,  tumpangan saya semenjak bayi. Saya dapat tiket non seat alias tidak dapat tempat duduk, walaupun begitu saya tetap saja dapat tempat duduk memanfaatkan bekas penumpang lain yang sudah turun.

Sambil menikmati perjalanan “De Javu” ini, saya pun memantau grup WA IPD University yang selama ini intens kami chit chat di dalamnaya, rupanya grup sedang ramai bersahutan tentang acara reuni, undangan Bu Rahayu, kumpul-kumpul dan entah apalah namanya pokoknya dalam benak kami “ reunian “ itu saja…

Masing-masing menginformasikan tentang keberangkatan mereka, ada yang masih tidur, ada yang sedang di jalan dan sebagainya. Saya ketahui kemudian ada satu rekan kami yang akan naik kereta yang sama dengan saya dia adalah Bu Lisa yang rencananya naik dari Stasiun Kertosono.

“ Wah kebetulan dong ada kawan untuk ngobrol” gumam saya

Dan benar adanya lepas Stasiun Kertosono saya sempat samperin Bu lisa di tempat duduknya nomer 20D di gerbong satu. Tapi sayang saya tidak bisa ngobrol banyak karena semua tempat duduk di sekitarnya sudah penuh sehingga saya hanya Say hello saja.

” Okelah bu semoga perjalananya menyenangkan, sampai ketemu di Tulungagung” ujar saya lalu melipir balik ke gerbong belakang.

Bu  Lisa di gerbong satu, serius pantau grup


Lama perjalanan ini kami tempuh kurang lebih selama tiga jam , berangkat dari Stasiun Sumobito jam 6.08 dan bila lancar akan sampai Tulungagung jam 09.11. Dalam perjalanan yang lumayan ini saya buat senyaman mungkin, maklum sudah lama tidak naik kereta yang satu ini, jadi semacam nostalgia gitu hehehe…!

Dan benar saja saya sangat menikmati perjalanan ini, selain pemandangan diluar yang sangat oke, pelayanan dan fasilitas kereta inipun lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya, saat-saat  saya sekolah  dahulu,  semuanya serba acak adut gak jelas, semenjak perkeretaapian di pegang oleh Ignatius Jonan mantan menteri Perhubungan yang sekarang jadi menteri ESDM ini, semua direformasi  dan sekarang jadi lebih baik,  baik dari segi pelayanan, fasilaitas dan juga kebersihannya.

Dulu apa saja bisa masuk, dari sayuran, rongsokan, hewan ternak, pedagang asongan, dengan kondisi bising, berdesak-desakan  dan bau kerigat pun tak terhindarkan ditambah toilet yang bau plus tak ada airnya.  Bukan main, ruwetnya kereta ini jaman dahulu.  Dan sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat,  sekarang kereta makin bersih , gerbong ber AC,  toilet bersih dan pelayanan yang sangat ramah,  menjadikan kami para penumpang nyaman dan senang memakai moda transportasi satu ini. salut dah untuk PT.KAI sekarang…!

Lama perjalanan yang tiga jam saya anggap belum seberapa karena saya sering naik kereta yang lamanya enam jam sampai duabelas jam saat suasana mudik seperti ini, apalagi di kereta kita disuguhi pemandangan yang memanjakan pemandangan khas persawahan tanah Jawa yang khas(aslinya penulis sih rumahnya ditengah sawah juga,  berhubung dah lama gak pulang jadi pemandangan yang biasa itu jadi terasa Wahh..!), jadi saya sangat menikmati perjalanan saat itu…

Pemandangan di balik jendela yang selalu saya rindukan


kadang bertemu rumah penduduk dengan dinding bambu yang sederhana dan bersahaja, para petani menggarap sawah, rumpun tebu,rumpun bambu dan sungai,  pokoknya pemandangan yang sudah lama tidak saya lihat ditempat tinggal saya sekarang ini. Pulau Batam.

Sebenarnya dalam perjalanan ini saya masih menebak-nebak kira-kira habis ini stasiun apa, jangan jangan nanti kebablasan, karena ini adalah kereta ekonomi,  lain cerita kalau ini kereta kelas bisnis atau eksekutif karena kalau kelas bisnis atau ekskutif  bila kereta akan berhenti pasti ada pengumuman lewat semacam pengeras suara yang ada disetip gerbong ada pemberitahuan bahwa kereta akan berhenti di stasiun ini dan stasiun itu layaknya seperti kereta-kereta diluar negeri.

Karena kereta Dhoho kelas ekonomi, jadi tidak ada fasilitas semacam itu, sehingga untuk mengetahui stasiun mana saja yang akan kami lewati saya pun coba searching  lewat internet dan menemukan situs  (ini ) sehingga saya tidak khawtair lagi akan kelewatan.

Maaf sebelumnya pemirsaa…diawal-awal  ini saya banyak cerita tentang kereta api, karena kehidupan saya sendiri  tak jauh-jauh dari kereta api , maklum rumahnya saya selain ditengah sawah juga  dekat dengan rel kereta api hehe…, dan lagi stasiun desa saya dan Tulungagung disambungkan oleh rel kereta api , so saya anggap masih satu paketlah hehe…

Dan benar saja, sesuai jadwal,  kereta kami sampai di Stasiun besar Tulungagung sekitar jam 09.20an, kenapa stasiun ini saya sebut stasiun besar? Ya karena stasiun ini cukup besar dan merupakan stasiun utama dan bangunannya pun besar dibandingkan dengan  stasiun-stasiun lain yang telah kami lewati.

Stasiun Tulungagung


Sayapun hari itu dijemput oleh seorang kawan baik kami, Mas Wawan namanya,  dan selain Mas Wawan ada juga rekan lain yang menemani yaitu Mas Widodo dan Mas Arif, sedang Bu Lisa dijemput oleh Bu Niti Rahayu beserta anaknya, wahh jadi tersanjung kami diperlakukan layaknya tamu kebesaran saja. Pokoknya senang sekali saat itu bisa bertemu kawan-kawan lama di kota ini, selain itu akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di kota ini juga hehehe..!

Selain tuan rumah yang baik, Mas Wawan juga seorang pemandu yang baik juga , saya diberitahukan olehnya tentang seluk beluk kota Tulungagung ini, jadi separuh pengetahuan tentang kota ini telah ditransfer secara gratis ke saya hehe!

Dari penilaian saya kota ini hampir mirip dengan kota asal  saya Jombang, sama-sama bersihnya, kotanya cukup ramai dan perekonomiannya cukup menggeliat, selain itu penduduknya juga cukup religius. Karena secara kebetulan saya sempat melihat ada acara semacam Kataman(pengajian Al Qur’an 30 juz) di sebuah ruko yang baru diresmikan, suatu pemandangan yang jarang kita temui di kota lain.

Dalam perjalanan kami menuju tempat reuni ini, kami juga nyamperin kawan-kawan lain supaya join dengan kami, dan Alhamdullillah beberapa kawan IPD yang ada di kota inipun banyak yang ikut. Saya sempat pangling ketika bertemu dengan mereka karena saking lamanya tak pernah bersua walaupun begitu saya masih familiar dengan  wajah mereka, walau ada yang lupa itu wajar dan kami pun berkenalan kembali sambil merefresh ingatan hehehe!

Setelah putar sana putar sini,  belok sana dan belok sini,  sayapun kurang paham dibawa kemana yang jelas pasrah  saja dahhh…. Namanya saja baru pertama kali ke kota ini. Setelah dibonceng motor selama setengah jam maka sampailah kami di  Desa Banaran dimana tempat reuni ini dilangsungkan, kebetulan saya dan Mas Wawan masuk desa ini dari gerbang selatan yang di kiri kanannya adalah sawah yang terdapat banyak tanaman tebu dan juga padi yang siap dipanen, diujung sawah terdapat rumah-rumah penduduk dengan latar belakang bukit-bukit yang dilapisi tanaman, yang boleh disebut hutan, jadi suasananya terlihat asri dan sejuk apalagi saat itu dalam keadaan mendung.

Gerbang sisi selatan Desa Banaran


Berdasarkan informasi yang saya terima, ini adalah desa terkecil nomer dua di Tulungagung dan itu saya buktikan sendiri ketika keluar desa,  sebentar saja saya bertemu dengan gerbang atau batas desa yang lain,  kalau desanya kecil biasanya kesejahteraan warganya terjamin, pendapat saya saja sih, semoga saja betul hehe..!

Padi yang menguning dan siap panen di Desa Banaran


Ketika kami sampai dirumah Bu Rahayu selaku Ibu Lurah Desa Banaran yang telah mengundang kami, kamipun kaget

” Lha kok ada tenda biru? Eh tenda hijau ding” tanya saya kekawan-kawan.

 “ Wah acara resepsi ini” jawab yang lain.

Setelah berembug sebentar kamipun ke rumah Bu Niti Rahayu untuk menunggu yang lain sambil musyawarah kembali(DPR kali ya..!?)

Dan kehebohan kecilpun terjadi ketika di rumah Bu Niti

“ Lha katanya reuni kok ada acara resepsi,siapa yang nikah?” tanya yang lain

“ Malik gimana ini kamu sebagai organisernya ini?” tanya saya

“ Bukan, bukan aku,  aku juga tidak tahu, ini inisiatif bu lurah saja” jawab Malik

“ Wah tahu gini aku akan pakai baju batik, masak mau main bola begini!” ujar saya berkelakar

“ Tak apa wis hajar saja, ini juga acara reunikan?” celetuk yang lain dibelakang.

Lokasi dimana bu lurah punya hajat




Reuni Part 1

Setelah ngobrol ngalor ngidul dan kawan-kawan yang ditunggu sudah hadir semua, kamipun meluncur ke rumah Sohibul Bait,  Bu Rahayu selaku Bu Lurah Desa Banaran yang sudah bermurah hati mengundang kami hari itu. Setelah memarkir motor kami masing-masing,  kamipun berjalan beriringan bak rombongan ketika mau mengantar pengantin saja hehe..!

Kami datang...!


Dan tahulah kami kemudian rupanya Bu Rahayu sedang punya gawe besar yaitu mengkhitankan Denta anak laki-lakinya ini. Sesampai di tempat acara kami disambut oleh bapak-bapak dan ibu-ibu penerima tamu yang berjajar rapi di depan, saya pribadi belum tahu mana bapak kepala desa Banaran yang merupakan suami Bu Rahayu ini. Yang saya tahu cuma sang istri yang merupakan kawan lama kami dahulu. Saat kami datang, beliau dengan gayanya yang masih funky langsung mempersilakan kami untuk mengambil hidangan yang disiapkan secara presmanan

 “ Sudah tak usah malu-malu langsung saja” ujar Bu Rahayu mempersilakan.

Demi menghormati tuan rumah kamipun langsung mengambil hidangan yang ditaruh ditengah-tengah tempat acara ini.

Kawan-kawan saat mengambil hidangan




Macam-macam menu makanan khas Jawa dihidangkan seperti sate, kare, ayam kecap, urap dan lainnya, bahkan nasi jagung pun ada. Dari sekian banyak yang dihidangkan saya memilih nasi jagung atau di desa saya dikenal dengan sego empok, maklum sudah lama tidak pernah merasakan nasi jagung sepeti ini, ketika saya memakannya rasanya kayak gimana gitu…hehehe..!

Eitts jangan salah ini bukan nasi goreng tapi ini adalah nasi jagung (sego empok) yang bikin penasaran


Sembari makan kami juga dihibur dengan pagelaran sholawat yang dilantunkan oleh Grup Sholawat “Kyai Kanjeng” yang diundang spesial hari itu, makin marem saja suasana  hari itu. Tak lama setelah menikmati hidangan dan mendengarkan lantunan sholawat,  kamipun diajak masuk kedalam rumah oleh sohibul bait.

Grup Sholawat Kyai kanjeng

Di ruang tamu kami bisa ngobrol dengan leluasa berhahahihi layaknya kawan akrab yang setiap hari bertemu saja, yang sejatinya kami sudah sangat lama tidak pernah bertemu ini. Kami bercerita tentang banyak hal dengan sekali-sekali diselingi dengan berfoto ria. Karena tuan rumah sendiri cukup repot kadang lari sana lari sini demi menyambut tamu yang lain, sehingga sebentar-sebentar beliau meninggalkan kami, dan kamipun maklum adanya .

Dan sejurus kemudian masuklah Bu Rahayu dengan seorang pria yang seumuran saya, beliau keihatan lebih muda dari saya kayaknya hehehe,., dan tahulah saya kemudian beliaulah pak Andri Priambodo atau lebih familiar dengan sebutan Pak Andik selaku Kepala Desa Banaran ini yang juga suami dari Bu rahayu.

Sama seperti yang dilakukan Bu Rahayu , Pak Andik juga mempersilakan kami untuk menikmati hidangan yang ada, ya hidangan penutup karena yang utama sudah didepan tadi hehehe…,  yang mana hidangan penutup ini terdiri dari kue mue yang tertata rapi dimeja ruang tamu ini.

Dari gaya bertutur dan gestur tubuhnya pak lurah ini terlihat ramah dan grapyak, cocok,  keduanya memang sosok yang friendly dan humble. Padahal bayangan saya itu,  namanya lurah atau pejabat di tanah Jawa itu tampilannya seperti Pak Raden atau tokoh Warok dengan kumis tebal plus perut buncit dalam cerita-cerita ludruk, rupanya bayangan saya tersebut salah besar, ketika bertemu Pak Lurah Desa Banaran yang satu ini, hehe..!

Kentongan di serambi rumah Lurah Desa Banaran


Karena tamu undangan pun datang silih berganti beliaupun mohon diri untuk menyalamai para tamu yang hadir. Dan kamipun melanjutkan obrolan-obrolan kami sambil mengudap kue-kue khas Jawa timur wabil khusus Desa Banaran .

Tak terasa sudah sekian menit kami ngobrol tentang banyak hal, karena khawatir merepotkan tuan rumah kamipun tak berlama-lama sehingga kamipun berpamitan pada tuan rumah sambil mengucapkan terima kasih atas sambutan dan jamuannya. Dan sebaliknya, tuan rumah pun berterima kasih atas kunjungan kami kerumah beliau dengan harapan kedepan bisa bertemu lagi. Dan sayang saat kunjungan  itu saya tidak bertemu Denta sang pengantin sunatnya, entah diumpetin dimana sama kedua orang tuanya hahe..!



Selesai mengahadiri undangan Bu Rahayu kamipun balik kerumah Bu Niti Rahayu yang jaraknya hanya sepelemparan batu saja.


Reuni Part 2

Di rumah Bu Niti Rahayu kami melanjutkan obrolan-obrolan dan temu kangen, jadi selain bu lurah, Bu Niti Rahayu ini juga menjadi tuan rumah kedua bagi kami, walaupun tidak banyak yang hadir tapi obrolan kami sangat menarik dan seru, kami bercerita tentang banyak hal dari masa masa jahil dulu di IPD ataupun sesudahnya bahkan kunjungan kami di rumah Bu Rahayu pun tak ketinggalan jadi bahan cerita kami.

Bu Niti Rahayu saat melayani pembeli


“ Aku lho malu banget…masak lagi enak-enak makan si kameramen meng-shoot aku terus, jadi mau nambah jadi sungkan..” ujar seorang kawan

“ Mesti kamu khawatir nanti videonya dipantengin terus sama bu lurah ya? hehe..!” jawab yang lain disambut tawa kami.

Selain ngemil Asul-asul dapat dari undangan, Bu Niti pun menjamu kami dengan kue-kue dan minuman dari tokonya(niatkan sedekah ya bu biar laris hehe..!) dan saat tengah hari saya sempat juga diajak Mas Wawan untuk mampir kerumah orang tuanya di Desa Bago yang juga tempat usahanya,  dan saya sekalian sholat Dhuhur disana. Walaupun begitu kami tidak berlama lama di sana karena harus bergabung dengan yang lainnya di Desa Banaran.

Suasana lain Desa Banaran


Karena  kegiatan hari ini adalah reunian,  jadi rekan kami yang punya usaha pernak pernik atau souvenir memberikan hadiah pada kami, masing-masing mendapat cendramata unik, dia adalah Mas Eric dari Blitar, jadi siapa saja yang tertarik  atau mau order souvenir dari beliau, sila kunjungi webnya di sini, dijamin semuanya unik dan menarik, apalagi kita sebagai kawan pastilah dapat harga special tentunya hehe..!

Kawan IPD sangat kreatif dengan usaha yang mereka geluti sekarang, ada pengusaha tas, souvenir, konveksi, kuliner, bengkel, buka toko, counter HP dan sebagainya. Senang mendengar cerita dan keberhasilan mereka sejauh ini. Semoga penulis bisa mengikuti jejak mereka kelak.

Menjelang Ashar acara ngobrol-ngobrol pun kami sudahi, walaupaun berat untuk berpisah, namun kami cukup puas hari ini. Pada dasarnya di setiap pertemuan pasti ada perpisahan dengan cerita menarik dibaliknya. Sayapun senang saat itu karena ini adalah momen yang sangat berharaga bagi saya, berada diantara kawan-kawan lama yang saya banggakan, hari ini sungguh  berharga bagi saya karena ini adalah hari terakhir saya di Jawa Timur karena esok hari saya harus bertolak ke Jakarta demi terbang ke pulau impian. Batam.

Saya yang sedari awal belum tahu  akan pulang naik apa,  karena  biasanya acara reuni atau ngobrol biasanya berjalan sangat menarik sehingga tak mengenal waktu, molor atau telat pulang itu pasti.  sehingga saya sudah prediksi  pulangnya belum tentu naik kereta api lagi, jadi saya memutuskan pulang naik bus. Selain itu saya juga penasaran saja dengan tempat-tempat yang belum saya kunjungi. Salah satunya terminal bus.

Lain lagi dengan Bu lisa, dia sudah membeli tiket Kereta api PP, karena pertimbangan diatas. Kamipun mengapresiasi keputusan dia untuk tidak memakai tiket tersebut karena masih ingin berlama-lama dengan kami, dan ini adalah gambaran begitu sayangnya dia dengan kawan-kawan disini. dan tak disangka  keputusanya itupun berbuah manis, karena dia dapat gantinya setelah menerima angpao berupa dollar dari salah satu rekan kami yang baru pulang dari luar negeri, itung-itung pengganti tiket kereta api yang hangus. Wah rejeki anak solehah hehe…!(inilah salah satu manfaat silaturahmi, dapat rezeki dari arah yang tak disangka-sangka).

Setelah foto bersama kamipun saling berpamitan dengan harapan bisa bertemu lagi di kemudian hari( kalau ada lagi..!)  dan dengar-dengar wacana tahun depan kumpul-kumpul seperti ini akan digelar lagi di kota saya,  Jombang.  Semoga saja bisa terealisasi termasuk penulis sendiri bisa pulang kampung lagi dan bisa ikut tahun depan.

Berdiri ki-ka: Suryanto, Iwan, Niti, Lisa, Arif, Ja'far, Malik
bawah ki-ka: saya, Zakki, Eric, Wawan. (pic by: Eric)


Kembali dibonceng Mas Wawan sayapun diantarnya ke Terminal Tulungagung dan secara kebetulan saya  satu bus dengan Bu Lisa seperti naik kereta pagi ini…wahhh…kok bisa ya?( Ya bisa, wong busnya cuma satu saat itu yang tujuan Surabaya heheh)

Tiket Rapi Dhoho dan tiket bus 


Dan tepat jam tiga sore bus kami meluncur meninggalkan kota ini, dan saat di Kediri, saya pun berpisah dengan Bu Lisa karena ingin melanjutkan jalan-jalan lagi dan setelah  Isya’ barulah saya sampai rumah dengan selamat. Alhmadulillah.





Akhirnya saya ucapan terima kasih kepada:

Ibu Rahayu dan Pak Andik selaku Bu lurah dan Pak lurah Desa Banaran yang telah mengundang kami dalam acara khitanan si Denta, terima kasih atas keramah tamahannya dalam menjamu kami dan segala sesuatunya, bila ada kata-kata atau tindak tanduk kami yang kurang sopan mohon di maafkan. By the way sate dan nasi jagungnya top markotop lho bu…hehe..!

Bu Niti Rahayu terima kasih atas kebaikan hatinya telah merelakan rumahnya ditempati untuk kongkow-kongkow kami, terima kasih atas kue-kue dan minumannya yang dihidangkan, semoga makain laris dagangannya.

Mas Wawan sebagai ojek pribadi plus pemandu yang baik bagi saya. kedepan kalau saya sama keluarga main lagi ke TA maukan jadi pemandu saya  lagi? ( kalau satu keluarga berarti pakai mobil nanti hehe…).

Pak Eric dan Istri, terima kasih suvenirnya semoga webnya banyak yang berkunjung plus banyak juga yang order.

Dan semua kawan-kawan yang hadir dalam kumpul-kumpul saat itu antara lain: Mas Widodo, Mas Suryanto, Mas Arif, Mas Ja’far, Mas Syaiful dan Istri,  Mas Zakki, Mas Iwan, Mas Malik dan Bu Lisa. Kalian adalah kawan ngobrol yang seru dan luar biasa…!






Catatan : untuk mengetahui cerita saya yang lalu tentang IPD, silakan baca di sini dan di sini.





Batam, 09 November 2016

Howgh!




10 komentar:

  1. nasi jagung nya bikin penasaran, soalnya blm pernah makan nasi jagung.. hehehe

    www.travellingaddict.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah lihat nasi jagung di kel. MUKAkuning Batam...dimasak oleh para santri...tapi saya tak tahu dapat dari mana mereka...

      Btw trims dah mampir brother..

      Hapus
  2. Seru juga reunian dengan teman lama. Apalagi sudah bertahun-tahun nggak ketemu apalagi ada yang sponsorin makanan kayak Bu Lurah haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haa...cerita ini dah saya umpetin lho...hehe...tahu aja blogger kondang satu ini...

      Btw trims dah mampir....

      Hapus
  3. Balasan
    1. Biasa aja bang...kisah dg kawan lama..

      Trims dah mampir..

      Hapus
  4. reuniaaan selalu bikin bahagia..ketemu teman lama..cerita2 masa lalu....pokoke asyik....saya jg mau reuni dgn teman2 SMP tahun depan di kampung halaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya uni...
      Ini kawan lama pabrik dulu..saat baru lulus sekolah..

      Kita tunggu cerita reuni mantan gadis gadis Padang nya ya he2..

      Hapus
  5. Baca tulisan "CACAK" kayak nya udah lama seklai ngak mendengar sebutan itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Maz Cumi, saya pakai kata itu kalau sedang kampung halaman.

      Btw thanks sudah mampir.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.